Sejarah, Sastra, dan Jurnalis Warga

  • Breaking News

    Saturday, January 17, 2015

    Identifikasi Tokoh Bhre Kertabhumi





    KERTABHUMI adalah salah satu nama keraton bawahan Majapahit. Bhre Kertabhumi artinya Paduka Bhattara yang berkuasa di keraton Kertabhumi.



    SEBAGIAN banyak sejarawan menafsirkan Bhre Kertabhumi sebagai nama asli seorang raja Majapahit. Nama ini terutama muncul dalam Serat Pararaton. Nama Bhre Kertabhumi tidak pernah muncul dalam prasasti. Karenanya sebagian banyak ahli sejarah belum terang benderang mengidentifikasi siapa satu tokoh populer Majapahit ini.

    Jika mencermati nama nama keraton yang pernah bertumbuh di Majapahit seperti Wirabhumi, Kahuripan, Pamotan, dan lainnya, nama Kertabhumi seharusnya bermakna keraton. Kertabhumi merupakan nama keraton bawahan Majapahit, bukan nama asli seorang tokoh. Bhre Kertabhumi adalah Paduka Bhattara yang berkuasa di keraton Kertabhumi.

    Tentu saja sebagaimana adat tradisi pararaja Majapahit, seorang raja memiliki gelar kerajaan atau abhiseka dan nama muda yang dicirikan dengan penggunaan gelar kebangsawanan ‘Dyah'.

    Gelar kebangsawanan ‘Dyah’, dalam tradisi Majapahit terutama berlaku untuk tokoh laki dan perempuan. Sebagai contoh, Dyah Lembu Tal itu tokoh laki. Adalah ayah pendiri Majapahit, Kertarajasa Jayawardhana dyah Wijaya.

    Kembali ke soal Bhre Kertabhumi. Bhre berasal dari kata Sansekerta Bhra dan i atau ing. Bhra dalam bahasa sansekerta artinya sinar, raja. Ing atau i artinya di. Karena ini menyangkut tokoh dan kerajaan, maka istilah Bhra artinya raja atau baginda. Sementara Kertabhumi adalah nama keraton.

    Jadi Bhre Kertabhumi adalah raja yang bertahta di keraton Kertabhumi. Dari kajian sejarah yang telah penulis lakukan dan mendukung teori sejarawati Nia Kurnia Sholihat Irfan, nama lengkap Bhre Kertabhumi adalah Girindrawardhana dyah Ranawijaya.

    Darimana mengidentifikasinya? Telusur kita mulai dari berita tahun 1447M ketika Majapahit bertahta sri maharaja Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya yang merupakan kakek Bhre Kertabhumi.

    Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya bertahta pada 1447-1451M. Merupakan keturunan keempat Sri Nata Kertarajasa dan Sang Rajapatni Dyah Gayatri. Putra bungsu sri maharaja Wikramawardhana dan Kusumawardhani ini mengeluarkan prasasti yang dikenal sebagai prasasti Wijaya Parakrama Wardhana atau Waringin Pitu, 1447M. Dalam prasasti itu Sri Nata disetarakan dengan Dewa Wisnu, salah satu dewa dalam agama Trimurti yang berkuasa memelihara ketenteraman dunia, sohor sebagai maharaja berkanuragan dan berprabawa tinggi, penakluk para musuh seteru, menguasai beragam ilmu pengetahuan, raja bijak bestari, pelindung rakyat, pelindung agama.

    Prasasti Waringin Pitu mencantumkan tiga menteri kerajaan yang dikenal sebagai mentri Katrini: Rakrian menteri Hino Dyah Sudewa. Rakrian menteri Sirikan Dyah Sudarcana. Rakrian menteri Halu Dyah Jubung. Ketiganya serupa Trisakti keturunan dewa, disucikan dari segala marabahaya yang mengepunginya. Saksat tricaktya vataro bhaya kulavicudha.

    Dalam prasasti ini disebutkan pula lima mantri kerajaan yang dikenal sebagai Sang Panca Wilwatikta: Rakrian Rangga Mpu Capana. Rakrian Kanuruhan Mpu Samparka. Rakrian Demung Mpu Pambubuh. Rakrian Tumenggung Mpu Gading. Rakrian Mapatih Majapahit Gajah Gêgêr. Sosok yang sangat giat keamanan dunia, jauh dari lalai lantaran selalu mencita-citakan ketentraman dunia. Rakryan mapatih ing Majapahit namawicitra Gajah Gêgêr. Jagadraksanalocananalasya taralemeh rasike kalocita ning karaksanin jagad.

    Prasasti Waringin Pitu menyebutkan 14 keraton bawahan Majapahit dan seluruh anggota wangsa Girindra menempati tiap-tiap keraton itu. Urutan raja dan ratu yang berkuasa di keraton bawahan Majapahit pada tahun 1447M adalah sebagai berikut:

    Bhre Daha V Sri Bhattara Jayawardhani Dyah Jayeswari. Bhre Jagaraga I Sri bhattara Wijaya Indudewi Dyah Wijaya Duhita. Bhre Kahuripan VI Rajasawardhana Dyah Wijaya Kumara. Bhre Tanjungpura I Manggalawardhana Dyah Suragarini. Bhre Pajang III Dyah Sureswari. Bhre Kembang Jenar I Rajanandeswari Dyah Sudarmini. Bhre Wengker III Girisawardhana Dyah Suryawikrama. Bhre Kabalan III Mahamahisi Dyah Sawitri. Bhre Tumapel IV Singa Wikrama Wardhana Dyah Suraprabawa. Bhre Singapura I Rajasa Wardhana Dewi Dyah Seripura. Bhre Matahun III Wijaya Parakrama Dyah Samarawijaya. Bhre Wirabhumi III Rajasawardhanendudewi Dyah Pureswari. Bhre Keling III Girindrawardhana Dyah Wijayakarana. Bhre Kalinggapura I Kamalawarnnadewi Dyah Sudayita.

    Berdasar kajian sejarawati Nia Kurnia Sholihat Irfan, urutan nama-nama tokoh keluarga Girindra yang tertulis dalam prasasti Waringin Pitu dimulai dari usia paling tua menurun sampai paling muda, serta menunjukkan tingkat kedudukan dalam keluarga Girindra.

    Dengan demikian dapat dibaca bahwa setelah sri maharaja Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya, keluarga Girindra tertua adalah Bhre Daha Jayawardhani Dyah Jayeswari, dan yang termuda Bhre Kalinggapura I Kamalawarnnadewi Dyah Sudayita. Prasasti Waringin Pitu menulis berurutan 5 pangeran keluarga Girindra di bawah Bhre Daha Jayeswari yaitu:

    Bhre Kahuripan VI Rajasawardhana Dyah Wijaya Kumara. Bhre Wengker III Girisawardhana Dyah Suryawikrama. Bhre Tumapel IV Singa Wikrama Wardhana Dyah Suraprabawa. Bhre Matahun III Wijaya Parakrama Dyah Samarawijaya. Bhre Keling III Girindrawardhana Dyah Wijayakarana.

    Rajasawardhana merupakan putra sulung Kertawijaya, karenanya dalam prasasti menjadi pangeran urutan paling atas. Ia putra mahkota. Jika raja wafat, yang berhak menggantikan adalah Baginda Rajasawardhana. Dalam Pararaton Baginda Rajasawardhana disebut Sang Sinagara.

    Girisawardhana dyah Suryawikrama merupakan putra kedua pasangan sri maharaja Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya dan permaisuri dyah Jayeswari, sehingga kedudukannya tepat dibawah Rajasawardhana.

    Singa Wikrama Wardhana dyah Suraprabhawa adalah putra bungsu pasangan Kertawijaya dan Jayeswari. Maka pantas dalam prasasti menduduki posisi pangeran ketiga.

    Wijaya Parakrama Dyah Samarawijaya, merupakan putra sulung dari pangeran tertua yaitu Rajasawardhana dyah Wijaya Kumara dari permaisuri Ratu Tanjungpura Manggalawardhani dyah Suragharini. Samarawijaya kelak dinobatkan sebagai putra mahkota setelah ayahnya menjadi raja Majapahit tahun 1451M. Namanya tertulis dalam prasasti karena merupakan cucu lelaki tertua sri maharaja Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya.

    Lalu Girindrawardhana Dyah Wijayakarana, adalah putra kedua Rajasawardhana dari permaisuri Ratu Tanjungpura. Atau adik kandung Wijaya Parakrama dyah Samarawijaya.

    Dari pembacaan prasasti Wijaya Parakrama Wardhana 1447M menunjukkan, pada 1447M, dua putra pasangan Rajasawardhana dyah Wijaya Kumara dan Manggalawardhani dyah Suragharini sudah lahir. 

    Sementara itu bagian akhir Serat Pararaton memberitakan ada empat putra Rajasawardhana atau Sang Sinagara, yaitu Bhre Koripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, dan Bhre Kertabhumi.

    Bagian terakhir serat Pararaton menulis: 

    bhre pandan salas anjeneng ing tumapel anuli prabhu i saka brahmana naga kaya tunggal, 1388. prabhu rong tahun, tumuli sah saking kadaton, putranira sang sinagara, bhre koripan, bhre mataram, bhre pamotan, pamungsu bhre kertabhumi. kapernah paman, bhre prabhu sang mokta ring kadaton i saka sunya nora yuganing wong, 1400. tumuli guntur pawatu gunung i saka kayambara sagara iku, 1403.

    Terjemahan bebas SIWI SANG: 

    bhre pandansalas dinobatkan sebagai baginda di tumapel lalu menjadi maharaja majapahit pada tahun saka 1388/1466M. ketika sang prabhu baru bertahta selama dua tahun, anak-anak sang sinagara meninggalkan istana, yaitu bhre kahuripan, bhre mataram, bhre pamotan, dan pamungsu bhre kertabhumi. baginda prabhu ini kapernah atau merupakan paman dari anak-anak sang sinagara. baginda prabhu wafat di keraton pada tahun saka 1400/1478M. lalu terjadi peristiwa gunung meletus di minggu watugunung tahun saka 1403/1481M.”

    Putra Rajasawardhana Sang Sinagara yang disebut Pararaton sebagai Bhre Kahuripan adalah Samarawijaya. Setelah Rajasawardhana naik tahta, Samarawijaya pindah dari Matahun ke Kahuripan, sebagai putra mahkota. Tahun 1447M, dyah Samarawijaya masih tercatat dalam prasasti sebagai bhre Matahun.

    Putra Rajasawardhana yang disebut Pararaton sebagai Bhre Mataram adalah Girindrawardhana Dyah Wijayakarana. Setelah ayahnya naik tahta, ia pindah dari Keling ke Mataram. Tahun 1447M, dyah Wijayakarana tercatat dalam prasasti sebagai bhre Keling.

    Lalu siapa Bhre Pamotan dan Bhre Kertabhumi yang tampil diberitakan dalam serat Pararaton bagian akhir? Keduanya kelak muncul dalam prasasti Jiyu 1486M. Bhre Pamotan, putra ketiga Rajasawardhana itu adalah Dyah Wijayakusuma, sedangkan Bhre Kertabhumi, sang pamungsu Rajasawardhana, bernama Dyah Ranawijaya.

    Pada 1447M, Bhre Pamotan Wijayakusuma dan Bhre Kertabhumi Ranawijaya belum lahir. Itulah sebab keduanya belum tertulis dalam prasasti yang dikeluarkan kakeknya, sri maharaja Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya. Prasasti 1447M memuat seluruh keluarga Girindra Majapahit.

    Selama ini sejarah menafsirkan Kertabhumi sebagai nama asli seorang raja Majapahit. Sesungguhnya Kertabhumi merupakan nama keraton bawahan Majapahit, bukan nama asli seorang tokoh.

    Bhre Kertabhumi adalah Paduka Bhattara yang berkuasa di keraton Kertabhumi.

    Sekali lagi semua kerabat keluarga raja tercatat lengkap dengan nama keratonnya. Bhre Kertabhumi tidak termuat dalam prasasti ini. Dapat ditafsirkan bahwa keraton Kertabhumi belum berdiri. Atau Bhre Kertabhumi belum lahir pada tahun 1447M.

    Semoga ini dapat menjembatani perbedaan penafsiran siapa Bhre Kertabhumi yang dalam sejarahnya pernah menjadi maharaja Majapahit terakhir dari keturunan asli Raden Wijaya.

    Traveller Portugis Tome Pires yang mengunjungi Jawatimur tahun 1513M mengabarkan dalam Suma Oriental atau Catatan Dunia Timur ada kerajaan di pedalaman beribukota di Dayo dan memiliki raja bernama Batara Vigiaja.

    Ditafsirkan kerajaan itu adalah Majapahit yang sudah beribukota di Dayo atau Daha Kediri. Sementara Batara Vigiaja translit dari Batara Wijaya atau Brawijaya.

    Istilah Brawijaya hanya dikenal dalam karya sastra Jawa seperti Babad Tanah Jawi. Penamaan Brawijaya tidak termuat dalam prasasti manapun keluaran Majapahit atau masa setelahnya. Kiranya Brawijaya dapat diterjemahkan sebagai maharaja Majapahit keturunan asli Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Dan kiranya pula maharaja Majapahit yang dapat bersebut Brawijaya lebih untuk raja laki.

    Bhre Kertabhumi Girindrawardhana Dyah Ranawijaya dapat disebut sebagai Brawijaya Pamungkas.


    poto peninggalan arkeologi di komplek goa selomangleng Tulungagung


    =================
    SIWI SANG
    Sumber: buku Girindra:Pararaja Tumapel-Majapahit karya Siwi Sang Desember 2013

    http://www.kompasiana.com/siwisang/nama-asli-bhre-kertabhumi_54f36fba7455139d2b6c75a0

    http://niakurniasholihat.blogspot.co.id/2008/07/pararaton-penafsiran-baru.html 

    Catatan ini sudah diedit tanggal 23/1/2015



    No comments:

    Post a Comment

    Literatur

    Taktik Menulis

    Banjarnegara