Sejarah, Sastra, dan Jurnalis Warga

  • Breaking News

    Friday, December 16, 2016

    Prasasti Trowulan III dikeluarkan Maharaja Kertawijaya

    buku karya Titi Surti Nastiti judul PEREMPUAN JAWA : Kedudukan dan Peranannya dalam Masyarakat abad VIII-XV


    Selama ini buku sejarah kita mencatat bahwa maharaja Majapahit Sri Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya yang bertahta tahun 1447M-1451M hanya mengeluarkan satu prasasti yaitu Prasasti Waringin Pitu tahun 1447M. Ternyata maharaja Kertawijaya masih mengeluarkan satu prasasti lagi yaitu yang dikenal sebagai Prasasti Trowulan III. Buku GIRINDRA: Pararaja Tumapel-Majapahit juga belum menempatkan Prasasti Trowulan III sebagai satu prasasti yang dikeluarkan oleh Maharaja Kertawijaya.  Identifikasi siapa yang mengeluarkan Prasasti Trowulan III sangat penting karena terutama berkaitan dengan sejarah Singawikramawardhana dyah Suraprabhawa yang berdasarkan penafsiran terbaru merupakan Maharaja Majapahit yang gugur tahun 1478M. Selain itu juga untuk menguatkan beberapa penafsiran yang menempatkan dyah Suraprabhawa sebagai putra bungsu Maharaja Kertawijaya. Meski tahun terbitnya tidak diketahui secara jelas, analisa berikut ini cukup mantap menempatkan maharaja Kertawijaya sebagai tokoh yang mengeluarkan Prasasti Trowulan III.


    Angka tahun dalam Prasasti Trowulan III sudah hilang. Nama raja yang mengeluarkan prasasti juga sudah hilang.

    Sampai saat ini belum ada penulis sejarah atau ahli epigrafi yang dengan tegas mengidentifikasi tahun terbitnya Prasasti Trowulan III atau siapa raja yang mengeluarkan prasasti ini.

    Padahal, kalau membandingkan dengan prasasti Waringin Pitu berangka tahun 1447M,  cukup terang benderang bahwa prasasti Trowulan III dan prasasti Waringin Pitu 1447M dikeluarkan oleh seorang tokoh maharaja yang sama.

    Mari kita cek dengan mengidentifikasi siapa tokoh MAHARAJA dalam prasasti Trowulan III yang ditulis sebagai ayah dari Bhre Tumapel Sri Singawikramawardhana dyah Suraprabhawa.  

    Dalam Prasasti Trowulan III terdapat keterangan yang menyebutkan Bhre Tumapel Sri Singhawikramawardhana Dyah Suraprabhawa mempunyai isteri bernama Bhre Singhapura Dyah Sripura Rajasawarddhanadewi.

    Dyah Suraprabhawa dalam Prasasti Trowulan III disebut sebagai putra bungsu SRI MAHARAJA.

    Nama lengkap SRI MAHARAJA sudah hilang. Sehingga perlu ditafsirkan siapa sesungguhnya SRI MAHARAJA ayah dari Bhre Tumapel Dyah Suraprabhawa.

    Siwi Sang dalam buku GIRINDRA:Pararaja Tumapel-Majapahit terbitan 2013 telah mengidentifikasi bahwa maharaja Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya dari permaisuri ratu Daha jayawardhani dyah Jayeswari memiliki 3 orang putra yaitu Rajasawardhana dyah Wijaya Kumara, Girisawardhana dyah Suryawikrama, dan Singawikramawardhana dyah Suraprabhawa.

    Jadi, merujuk pendapat Siwi Sang, kita ketahui bahwa ayah Dyah Suraprabhawa yang dalam prasasti Trowulan III ditulis sebagai MAHARAJA adalah maharaja Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya yang berkuasa sebagai maharaja Majapahit pada tahun 1447M-1451M.

    Berita dalam Prasasti Trowulan III  yang menyebutkan Dyah Suraprabhawa sebagai putra bungsu MAHARAJA Majapahit juga menguatkan pendapat Siwi Sang yang menempatkan dyah Suraprabhawa sebagai putra bungsu maharaja Majapahit Kertawijaya.

    Menurut pendapat Siwi Sang, ketika baginda Prabhu Kertawijaya naik tahta, baginda Rajasawardhana yang dinobatkan sebagai putra mahkota tetap bersemayam di Kahuripan. Girisawardhana dyah Suryawikrama tetap di Wengker. Sementara Singawikrama-wardhana dyah Suraprabhawa pindah dari Pandansalas ke Tumapel menempati keraton yang sebelumnya ditempati ayahandanya [GIRINDRA hal 234].

    Dalam prasasti Waringin Pitu tahun 1447M, yang menjadi maharaja Majapahit adalah Wijaya Parakrama wardhana dyah Kertawijaya dan yang menjadi Bhre Tumapel adalah Dyah Suraprabhawa.

    Jadi identifikasi bahwa MAHARAJA dalam prasasti Trowulan III adalah raja Kertawijaya sudah sangat klop.

    Dengan demikian disimpulkan bahwa yang mengeluarkan prasasti Trowulan III adalah maharaja Majapahit Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya [1447M-1451M]

    Tinggal kita mencari angka tahun terbitnya prasasti Trowulan III.

    Dalam prasasti Trowulan III menulis Mahamahisi Dyah Sawitri sebagai Bhre Kabalan.

    Dalam Prasasti Waringin Pitu 1447M, yang menjadi Bhre Kabalan adalah Mahamahisi Dyah Sawitri.

    Dari fakta itu, dapatlah kita tempatkan bahwa Prasasti Trowulan III terbit setelah prasasti Waringin Pitu 1447M.  Karena tidak mungkin Prasasti Trowulan III terbit sebelum tahun 1447M sebab berdasarkan berita Serat Pararaton, raja Kertawijaya baru naik tahta sebagai maharaja Majapahit menggantikan Sri Suhita pada tahun 1447M.

    Terkait Bhre Kabalan, Serat Pararaton masih memberikan data catatan bahwa Bhre Kabalan [ maksudnya Bhre Kabalan Mahamahisi dyah Sawitri permaisuri Bhre Wengker Girisawardhana dyah Suryawikrama] wafat pada tahun 1450M.

    Dengan demikian, merujuk berita Serat pararaton, dapat ditarik kesimpulan bahwa prasasti Trowulan III dikeluarkan sebelum Bhre Kabalan Mahamahisi dyah Sawitri wafat.

    Rasanya sangat masuk akal jika kita tempatkan Prasasti Trowulan III dikeluarkan oleh maharaja Majapahit Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya antara tahun 1448M-1450M.

    Titi Surti Nastiti yang menampilkan Prasasti Trowulan III dalam bukunya judul PEREMPUAN JAWA : Kedudukan dan Peranannya dalam Masyarakat abad VIII-XV juga belum membahas siapa MAHARAJA yang mengeluarkan Prasasti Trowulan III.




    Berikut kutipan isi Prasasti Trowulan III dari buku PEREMPUAN JAWA: kedudukan dan peranannya dalam Masyarakat abad VIII-XV karya Titi Surti Nastiti.

    [a.2] .... saha caritra sira muang ajna paduka bhatare ka [3] balan garbhbajanma nama dyah sawitri sri mahamahisi nama rajnyabhiseka //....[5]....//o// iniring muwah ktajnanira tkapnyajna  paduka bhatare tumapel garbbhajanma nama dyah sura [6] prabhawa sri sinhawikramawaddhana nama rajabhiseka tadantikatmaja pamungsu putra sira tkap sri ma [b.1] haraja ....//....[2]....// bharyyapati sira muang ajna paduka bhatare [3] sinhapura garbbhajanma nama dyah sripura sri rajasawarddhanadewi nama rajnyabhiseka [bosch 1981:170]

    TERJEMAHAN:

    perintah beliau diikuti oleh perintah paduka bhatara i kabalan nama kecilnya dyah sawitri dan bergelar sri mahamahisi ...., diiringi pula oleh perintah paduka bhatara i tumapel bernama kecil dyah suraprabhawa dan bergelar sri sinhawikramawardhana beliau adalah putra bungsu sri maharaja ....  beliau beristerikan paduka bhatara i singhapura bernama kecil dyah sripura dan bergelar sri rajasawarddhanadewi. 

    ==========

    No comments:

    Post a Comment

    Literatur

    Taktik Menulis

    Banjarnegara