Sejarah, Sastra, dan Jurnalis Warga

  • Breaking News

    Saturday, November 26, 2016

    Penulis sebagai Pencipta Bahasa

    Satu keunggulan kaum penulis yang sulit ditandingi profesi lain adalah menjadi pencipta kata dan bahasa. dari dulu sampai sekarang, banyak kata dan bahasa baru yang sebelumnya tak dikenal menjadi sangat terkenal karena dimunculkan para penulis baik fiksi maupun nonfiksi tapi yang lebih banyak adalah penulis fiksi atau sastra.

    Dulu sekali ada bahasa mashur yang berbunyi : 'sepoi sepoi basa'. itu bahasa artinya apa? silakan dibayangkan dan rasakan saja suasana sepoi sepoi basa. kemudian ada banyak istilah yang dipopulerkan pengarang fiksi atau sastrawan seperti istilah : 'sepanjang siang sepanjang malam'. 'bulan bulat bundar' dan taukah siapa yang pertama memopulerkan istilah 'bulan meruncing merah?' kalo kita nulis cerpen atau karya fiksi, sebaiknya dan seharusnya jangan coba coba menggunakan istilah 'bulan meruncing merah' karena itu identik dengan karya Triyanto Triwikromo. kita para penulis, pengarang, sastrawan, adalah orang atau kaum kreatif yang punya potensi memunculkan kata dan bahasa baru yang berbeda dari yang sudah sudah.

    Dulu sampai sekarang kaum penulis sohor sebagai kaum pencipta kata dan bahasa baru.

    Tapi hari kini kerjaan itu mulai diserobot kaum artis. Ya, kaum artis atau orang sohor yang suka nampil di tivi itu juga punya potensi sebagai pencipta kata dan bahasa baru. seperti istilah 'cetar membahana'.

    Kalo saya ini sedang terus berupaya menampilkan atau memunculkan kata kata klasik yang jarang dipakai atau belum masuk belantara kebahasaan Indonesia. Mengurangi atau menyingkirkan penggunaan istilah istilah bahasa kata serapan asing menggantinya dengan kata bahasa Indonesia. Seperti istilah 'SINERGI' saya ganti dengan istilah 'KERJASAMA'.

    Seminar Kebahasaan Himpunan Mahasiswa jurusan Tadris bahasa Indonesia IAIN Tulungagung


    Jika KBBI atau rimba belantara kebahasaan Indonesia semakin dipenuhi kata istilah bahasa serapan asing, tanda kita terutama kaum penulis semakin miskin dan jauh melupakan bahasa persatuan Indonesia dan bahasa lokal di tempat kita masing masing.


    sumber poto: Fb Bunda Zakyzahra Tuga ============
    SIWI SANG


    Kutipan catatan  saya untuk Seminar Kebahasaan tema Cinta Bahasa sebagai Aktualisasi Cinta Bangsa yang dihelat Himpunan Mahasiswa jurusan Tadris Bahasa Indonesia IAIN Tulungagung, 19/11/2016, di gedung KH. Saifuddin Zuhri ruang D27 IAIN Tulungagung. 


    No comments:

    Post a Comment

    Literatur

    Taktik Menulis

    Banjarnegara