Tulungagung punya satu seni tradisi asli yang saat ini sedang menjadi andalan. Seni tradisi itu namanya Reyog Kendang Tulungagung. Ini seni tradisi yang menggunakan alat musik utama berupa kendang satu selaput dikenal dengan jenis Dhogdhog. Oleh karena itu ada sebagian yang mengatakan Reyog Kendang Tulungagung sebagai Reyog Dhogdhog Tulungagung.
Seni tradisi Reyog Kendang Tulungagung memiliki ciri unik yang tidak ditemukan dalam seni tradisi Reyog di tempat lain.
Seni tradisi Reyog Kendang Tulungagung merupakan paduan musik dan tari. Maksudnya, para pemain SENI TRADISI ini berperan sebagai penari sekaligus penabuh alat musik kendang Dhogdhog.
Seni tradisi Reyog Kendang Tulungagung merupakan paduan musik dan tari. Maksudnya, para pemain SENI TRADISI ini berperan sebagai penari sekaligus penabuh alat musik kendang Dhogdhog.
Satu grup Reyog Kendang Tulungagung terdiri dari 6 pemain kendang. Selain itu ada ketambahan tiga orang berperan sebagai pengiring musik, menabuh gong, kenong, dan selompret. Tiga penabuh ini tidak menari.
Seni tradisi Reyog Kendang Tulungagung sekarang sedang tumbuh kembang pesat. Semakin menggembirakan perkembangannya karena tanggal 12 Nopember, Reyog Kendang Tulungagung siap pecahkan rekor MURI dalam rangkaian perayaan hari jadi kabupaten Tulungagung ke 810. Pesta rakyat itu rencananya menghadirkan lebih dari 2000 pemain Reyog Kendang Tulungagung.
Di tahun tahun yang silam, Reyog Kendang Tulungagung sempat hidup naik turun, bahkan pernah dianggap mati suri. Ada satu seniman Reyog Kendang Tulungagung yang tau betul perkembangannya. Ialah Siswoyo, seniman Reyog Kendang Tulungagung dari desa Gendingan, RT 2/RW 1, kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.
Pada kesempatan ini kita simak kiprah Siswoyo dalam seni tradisi Reyog Kendang Tulungagung. Sebagian data catatan ini diambil dari draf buku tokoh seni budaya dan sejarah Tulungagung yang rencananya diterbitkan Badan Arsip Dokumentasi dan Perpustakaan Tulungagung yang karena sebab tertentu sampai tulisan ini diunggah, buku itu masih tertunda.
Siswoyo lahir pada tanggal 1
Januari 1959.
Bapak dua anak ini mulai jadi pemain Reyog Kendang Tulungagung sejak sekolah
dasar. Ia mewarisi bakat ayahnya. Kini Siswoyo menjadi pengasuh Sanggar Reyog Kendang
Dhogdhog Tulungagung SAJIWO JATI.
Siswoyo memiliki dua orang putri yaitu Yuyun Handayani dan Lili Nurfitasari. Putri sulung
tinggal di rumah membantu Siswoyo melatih Reyog Kendang. Sementara putri
bungsunya kuliah di Malang jurusan seni tari.
Siswoyo
mengisahkan perjuangan putrinya hingga berhasil diterima kuliah di Malang
melalui jalur penelusuran bakat. Berangkat tes ke Surabaya sendirian. Hanya
membawa satu alat Reyog kendang. Sementara teman temannya diantar keluarga yang
sebagian banyak keluarga mampu. Semua membawa kaset sendiri sendiri untuk
mengiringi tari. Hanya putri Siswoyo yang tidak membawa kaset music. Ketika itu
ia merasa ragu dan bertanya, “ pak, iki kepiye? Kabeh do nggawa kaset.” Tetapi
Siswoyo dengan tekad kuat memberi semangat kepada putrinya dengan mengatakan, “Tanpa
kaset kasetan! Alatmu hanya itu, kemampuanmu hanya itu, maka tunjukkanlah!
Jangan minder. Sing penting atimu karep. Niat.”
Dari peristiwa
itu Siswoyo sebenarnya sedang berusaha menanamkan rasa keberanian dan percaya
diri kepada putrinya saat tampil. Perkara hasil nomer belakang, yang penting
harus berani menunjukkan kemampuan dalam berkesenian. Dan Alhamdulillah, putri
Siswoyo ini diterima lulus masuk perguruan tinggi.
Awal Mula Siswoyo Tertarik Reyog Kendang Tulungagung
Siswoyo berasal
dari keluarga seni. Ayahnya bernama Kongso yang pada masanya dikenal sebagai salah satu tokoh Reyog
Kendang Tulungagung. Darah seni yang sampai sekarang mengaliri tubuh Siswoyo berasal
dari ayahnya.
Pada masa kecil,
Siswoyo dipaksa ayahnya untuk bermain dan menyenangi Reyog Kendang. Hal itu
semata mata karena ayahnya berkeinginan mewariskan jiwa seni kepada Siswoyo.
Tetapi karena merasa tidak memiliki kemampuan dalam bermain Reyog Kendang,
Siswoyo masih belum memenuhi keinginan ayahnya itu.
Hingga waktu
membuktikan bahwa witing tresna jalaran saka kulina. Dari kebiasaan menyaksikan
ayahnya bermain Reyog Kendang, lama kelamaan Siswoyo memiliki ketertarikan dan
perasaan senang dana seni tradisi asli Tulungagung ini. Melihat hal itu,
ayahnya kemudian mulai mengajari Siswoyo joged. Perlahan Siswoyo dapat
memainkan Reyog Kendang Tulungagung.
Selain itu,
ketika ayahnya sedang membuat alat alat Reyog Kendang, Siswoyo memerhatikan dan
membantu sekadarnya. Proses kreatif Siswoyo tidak berhenti di situ. Ketika
ayahnya sedang sibuk membuat peralatan Reyog, ia juga suka memerhatikannya
meski hanya rusuh rusuh. Sampai kemudian Siswoyo lincah membuat peralatan
kendang sendiri. Sampai sekarang Siswoyo tetap meneruskan usaha ayahnya, membuat peralatan Reyog Kendang Tulungagung.
Produksi alat Reyog
Siswoyo sampai sekarang membuat alat
alat seperti kendang, gayor, iker aksesorier pakaian
lengkap. Sudah mulai membuat alat alat reyog kendang sejak sekitar tahun 1979. Dia tidak membuat gong dan kenong.
Selain mencukupi pesanan wilayah Tulungagung, Siswoyo kerap mengirim alat alat
Reyog Kendang Tulungagung memenuhi pesanan luar kota seperti Surabaya, Malang, Pacitan, bahkan sampai luar
jawa yaitu Kalimantan. Jika ada yang
pesan, satu set dapat terpenuhi selama dua minggu.
Istri di rumah
ikut membantu Siswoyo untuk pekerjaan pembuatan alat alat Reyog. Istri terutama
kebagian pekerjaan mengecat kendang dan menjahit kostum. Siswoyo bagian nglaras gong
dan kendang. Yang lama
membuat gayor karena harus mengukir bentuk naga. Siswoyo mengukir sendiri.
Selain keluarga,
kegiatan Siswoyo dalam memroduksi alat alat Reyog Kendang juga dibantu beberapa
tetangga dekat dan saudara. Tanpa disadari oleh Siswoyo, bahwa segala kegiatan
itu telah ikut sedikit memberi manfaat bidang ekonomi keluarga dan orang
lain. Inilah yang dinamakan seni menuju ekonomi kreatif.
BERSAMBUNG
No comments:
Post a Comment