Sejarah, Sastra, dan Jurnalis Warga

  • Breaking News

    Wednesday, January 28, 2015

    Prasasti Bendosari 1360M



    PRASASTI BENDOSARI 1360 M ditemukan di  dukuh Bendosari, desa Jambu, Trenggalek pada tahun 1896M. Prasasti ini merupakan suatu keputusan hakim. Oleh karena itu dinamai Jayapatra atau Jayasong. 


    Prasasti Bendosari 1360M menampilkan susunan ketatanegaraan menurut hukum adat yang dinyatakan dengan kekuasaan sri maharaja Hayam Wuruk teriring perintah sri paduka Tribhuwanatunggadewi, permaisuri bhre Tumapel I sri  paduka Kertawardhana. Lalu perintah diturunkan dengan keijinan atau bayangan sri paduka Wijayadewi Dyah Wiyat, permaisuri bhre Wengker I sri paduka Wijayarajasa. 

    Perintah ditandai oleh para anggota Dewan Mahamenteri Katrini. Selanjutnya turun kepada dewan enam anggota paratanda rakrian atau Rakryan Ring Pakirakiran, yaitu Senapati, Atmararaja, Rakrian Demung, Rakrian Kanuruhan, Rakrian Rangga, dan Rakrian Tumenggung, dengan dibantu oleh patih Pajang dan Rake Juru Pengalasan. Sementara yang menjadi pusat badan eksekutif adalah mapatih Gajahmada, sang penyambung lidah raja.

    Menurut Prasasti ini keputusan-keputusan pengadilan ditetapkan dan disiarkan tidak oleh dewan hakim yang berwenang menjalankan hukum, melainkan segala pertimbangan dan penyelidikan hakim dilimpahkan kepada badan lain yaitu dewan rakryan paratanda. Di sini ada pemisahan peradilan, tetapi tidak boleh menghilangkan hubungan tatapraja ketiga jawatan kerajaan tersebut.

    Anjuran keputusan peradilan dimajukan oleh mahkamah yang beranggotakan tujuh orang hakim pamegat. Cara kerja dewan hakim dan hukum mana yang dipakai untuk mengambil putusan atas perkara yang dihadapi, juga memerhatikan dan meninjau bersama-sama bagian pasal lain.

    Berikut sebagian isi Prasasti Bendosari berdasar terjemahan Muhammad Yamin.

    Perintah kerajaan itu teriring perintah Cri Tribhuwanottunggarajadewi Jayawisnuwardhani yang menyamai Dewi Laksmi yang menjadi jimat manggala segala raja, yang dihiasi kemolekan indah, bijak dan giat, yang seolah bersatu luhur dengan Sri Paduka Kertawardhana [baginda Tumapel I] dikelilingi segenap raja bawahan yang tunduk takluk.

    Perintah itu teriring pula oleh keijinan Sri Paduka Wijayadewi [ratu Daha Dyah Wiyat] yang dihiasi tenaga yang tiada cacatnya, berhubungan dengan intan permata kepada para raja, yang seolah membentuk kesatuan luhur dengan Sri Paduka Bhattara Wijayarajasa [baginda Wengker I] yang termashur karena keberaniannya di medan pertempuran.

    Perintah ditampung ketiga Rakyan Mahamenteri Katrini yaitu rakrian mahamenteri hino Dyah Iswara, rakriana mahamenteri Sirikan Dyah Ipo dan rakrian mahamenteri Halu Dyah Kancing.

    Lalu menurun kepada para tandha Rakrian Ring Pakirakiran semua yaitu sang arya senopati Pu Tanu, sang arya Atmaraja Pu Tanding, rakrian demung Pu Gasti, rakrian kanuruhan Pu Turut, rakrian rangga Pu Lurukan, rakrian tumenggung Pu Nala. Dibantu Patih Pajang dan ditemani Rake Juru Pengalasan, Pu Petul yang ahli dalam kebijaksanaan politik.

    Semua menteri tersebut merupakan anggota dewan menteri dibawah pimpinan Rake mapatih Pu Mada yang cakap dalam berbagai kebijaksanaan, sakala nitiwrha spatisanggramika, pelindung baginda maharaja, pranaraksana cri maharaja, yang menjadi saluran tempat menyalurkan kekuasaan sri maharaja menuju kepada rakyat, serupa pranala pada arca mahadewa siwa, peneguh kekuasaan raja, selalu tepat dalam tindakannya dalam mandala Jawadwipa, hita karmaning yawadwipamandala, penghancur musuh baginda maharaja.

    Dharmajaksa Ring Kasaiwan sang arya Rajaparakrama dang acarya dharmaraja.  Dharmadhaksa Ring Kasogatan sang arya diraja dang acarya Kanakamuni yang mahir pengetahuannya dalam kitab sastra pelajaran agama Buda dan pemecahan ilmu bahasa.

    Pejabat hukum yang mengambil keputusan dalam setiap pertikaian adalah Sang Pamegat Tiruan sang arya Wangsadiraja dang acarya Siwanata, Sang Pamegat Kandamuhi dang acarya Marmanata mapanji Sang Suman, Samegat Manghuri dang acarya Smaranata, Samegat Jamba dang acarya Jayasmara, Samgat Pamwatan dang acarya Iswara, dan Samgat Kandangan Rarai dang acarya Munindra [Prapanca].

    Mereka semua mempertimbangkan segala alasan yang dimajukan kedua pihak yang bersengketa lalu memberi keputusan dengan perantara para hakim berdasarkan hak dan kewajiban sebagai warga Negara, lalu menambahkan penjelasan terhadap kedua alasan kedua belah pihak yang bersengketa dengan membubuhi tanda peringatan, supaya selanjutnya dapat diketahui dan dilaksanakan para rakrian ring Pakirakiran yang mengepalai berbagai perkara Negara setelah menunjukkan kekuatan alasan kedua belah pihak.

    ---------
    SIWI SANG

    Lebih komplit termasuk transkip asli ada termuat dalam Muhammad Yamin, Tatanegara Madjapahit, Parwa 1-2, yayasan Prapantja, Jakarta, 1962.


    Literatur

    Taktik Menulis

    Banjarnegara