Sejarah, Sastra, dan Jurnalis Warga

  • Breaking News

    Tuesday, July 22, 2014

    Candi Dadi Tulungagung






    Inilah candi unik memukau di puncak bukit. Boleh dibilang satu satunya di Indonesia. Jalur menuju Candi Dadi Tulungagung sejauh sekitar tiga kilometer dari kaki bukit. Sebagaimana jalur pendakian gunung, jalur menuju lokasi candi unik ini berupa jalan setapak, di beberapa tempat memiliki trek terjal terutama di dua ratus meter menjelang puncak. 

    Candi unik menakjubkan ini namanya candi Dadi. Letaknya persis di puncak bukit yang masuk jalur pengunungan Walikukun, Tulungagung bagian selatan. Secara administrative candi ini masuk dusun MOJO, desa Wajak Kidul, kecamatan Boyolangu, Tulungagung.


    Candi Dadi Tulungagung tahun 1941. Sumber poto : http://media-kitlv.nl

    Candi Dadi Tulungagung

    Asal Nama

    Dari arah perbukitan Sanggrahan di kaki bukit sampai puncak candi Dadi sebenarnya masih ada 3 candi lain, yaitu candi urung, candi Buto, candi Gemali. Tapi ketiganya tinggal runtuhan  batuan. Lokasi yang dikenal sebagai Candi Gemali kini hanya tersisa batu berbentuk Lingga.

    Menurut mas Andi, pegawai Museum Wajakensis Tulungagung, penamaan candi Dadi dan tiga candi lainnya bukan berasal dari dunia arkeologi melainkan dari tutur cerita masyarakat sekitar yang berkembang melalui getok tular turun temurun sampai sekarang. Sebagaimana peninggalan candi di daerah lain seperti candi Prambanan, candi Dadi dan tiga candi lainnya itu terbungkus cerita tutur tinular yang berkembang dalam masyarakat.

    Dari cerita tutur tinular menyebutkan, dulu ada seorang pangeran melamar seorang putri di dusun Kedungjalin. Singkat kata lamaran itu diterima dengan sarat harus membangun sebuah candi dalam waktu semalam atau selesai pembangunan sebelum matahari pagi. Pangeran itu menyanggupi dan ternyata hampir merampungkan pembangunan candi ketika waktu yang ditentukan masih tersisa lama. Karena sejak awal ingin menolak lamaran, sang putri cemas dan coba cari akal bagaimana pembangunan candi itu gagal. Menjelang pagi sang putri sang putri mengumpulkan kaum perempuan desa Kedungjalin ramai membunyikan lesung. Pangeran terkejut mengira waktu sudah pagi. Ia marah dan meruntuhkan candi yang belum rampung. Itulah sebab masyarakat kelak menyebut runtuhan candi ini sebagai candi Urung atau candi Wurung, artinya batal atau tidak jadi.

    Penamaan candi Buta berdasarkan kepercayaan masyarakat sekitar bahwa di lokasi itu sebenarnya ada sebuah arca raksasa yang sangat besar tapi disembunyikan oleh penunggu gaib di situ sehingga sekarang tidak kelihatan mata awam.

    Di timur candi Buta adalah candi Gemali atau lingga Gemali. Tidak ada yoninya.  Lingga adalah lambing kesuburan seorang lelaki. Ini terkait cerita tutur tinular masyarakat bahwa dulu dusun Kedung jalin kaum perempuan pernah terkena kutukan yaitu para perawan tidak akan menikah sebelum mencapai usia tua. Kiranya itu yang menyebabkan dibangu lingga sebagai lambing kesuburan.

    Kemudian penamaan candi Dadi karena candi inilah satu satunya yang utuh jadi sehingga dinamakan candi Dadi atau jadi. Sampai sekarang candi unik ini memang boleh dikata masih utuh dan asli. 

    Siku Sudut Candi Dadi yang memukau

    Candi Dadi memang unik memukau. Pertama karena letaknya di puncak bukit atau berada di tempat tertinggi. Menurut mas Andi, ini berkaitan dengan pemahaman kebudayaan Hindu dimana daerah tinggi atau gunung dipandang sebagai tempat paling suci persemayam para dewa.

    Kemudian masih menurut lelaki yang saban hari Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu, tengok candi Dadi ini, berdasarkan bentuk fisik, candi Dadi sangat unik karena bentuknya merupakan kombinasian dua kebudayaan yang berbeda, Hindu dan Budha. 

    "Jika melihat samping kaki candi dalam jarak 50 meter, bentuknya seperti bangunan kerajaan Tiongkok penganut Budha. Lalu pada bagian pojok candi, cenderung pada kebudayaan Hindu. Hanya secara keseluruhan yang lebih mendominasi adalah pengaruh kebudayaan Budha," paparnya.

    Ketika ditanya apa sudah ada wisatawan asing berkunjung ke candi Dadi, mas Andi menjawab sudah pernah beberapa kesempatan. Dan mereka sangat terpukau. Hanya dengan kondisi seperti ini apa adanya, kata mas Andi, para wisatawan asing hampir semua menyebut candi Dadi sebagai peninggalan sejarah yang sangat menakjubkan. Sebagai candi yang luarbiasa dilihat dari fisiknya, siku sudutnya. Jika difoto dari atas, wisatawan asing takjub melihat siku sudut candi Dadi. 

    Lobang Sumuran Candi Dadi Satu Satunya di Indonesia

    Yang paling menarik dan sangat mungkin satu satunya di Indonesia adalah candi Dadi punya lobang di bagian atas dengan diameter dan kedalaman sangat simetris sama. Diameter lobang atau sumuran ini sepanjang 3, 4m  dan kedalaman sekitar 3m. 

    Menurut mas Andi  yang setiap Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu, tengok candi Dadi itu, para wisatawan mancanegara terutama lebih terpukau dengan lobang sumuran di candi Dadi ini.

    Bagian atas candi Dadi berbetuk segi delapan. Lobang sumuran berada di tengah segi delapan. Jika musim hujan, ait tidak pernah menggenangi sumuran. Air selalu terserap ke bawah. Masyarakat percaya bahwa sumuran candi Dadi tembus ke pantai selatan. 
    Fungsi Lobang sumuran candi Dadi

    Terkait fungsi lubang sumuran candi Dadi, mas Andi menyampaikan sampai sekarang masih ada beragam pendapat atau belum dapat dipastikan benar fungsi sesungguhnya. Dari beberapa kunjungan tim arkeologi Trowulan, menyebutkan candi Dadi fungsinya seperti yoni. Sehingga diperkirakan dulu ada lingga ditaruh di lubang sumuran itu. Tentu lingga yang sangat raksasa jika dugaan itu benar.

    Ada pula pendapat candi Dadi digunakan sebagai tempat pembakaran mayat. Pendapat ini berasal dari arkeolog Belanda Stuterheim. Siwi Sang berdasarkan penelitian Stuterheim itu kemudian mengidentifikasi bahwa pada jaman Majapahit, candi Dadi menjadi tempat pengabuan jenajah maharajapatni dyah Gayatri. Ini lengkapnya ada termuat dalam buku Girindra:Pararaja Tumapel Majapahit.

    Satu hal yang sangat jelas adalah bahwa candi Dadi tidak punya tangga. Hampir semua bangunan candi tempat pendarmaan atau pemujaan terdapat tangga. Tapi ini tidak untuk candi Dadi. Ini juga unik. Ada lobang di atas tapi tidak ada tangganya. 

    Bagaimana para pengunjung naik lihat siku sudut dan lobang sumuran candi Dadi? Jangan kawatir. Untuk naik candi Dadi ada alat berupa tangga buatan dari bambu.  

    Masa Pembangunan Candi Dadi Tulungagung

    Kapan pembangunan candi Dadi tidak jelas karena tidak pernah ditemukan jejak angka tahun di sekitar candi. Cuma banyak pendapat menyatakan bahwa candi Dadi dibangun pada masa Majapahit. Sementara tim sejarah dari Save Trowulan yang sempat mengunjungi candi Dadi beberapa waktu silam mengindikasikan candi Dadi sudah dibangun pada masa karesian atau sejak berkembang kerajaan Panjalu Kediri.

    Sejak awal, candi Dadi belum pernah ada konservasi apapun atau belum pernah ada pemugaran. Bentuk yang sekarang terlihat masih asli seperti dulu. Jikapun diadakan pemugaran, posisi tempat ini tidak memungkinkan kalau diadakan pemugaran. Air di sini sulit pengadaannya, harus turun jauh. Untuk pemugaran butuh batu, juga susah.

    Berdasarkan pantauan mas Andi, pengunjung candi Dadi kebanyakan pelajar sekolah yang setiap hari minggu atau liburan sekolah hampir selalu berkunjung terutama ketika mereka melakukan kegiatan ekstra yang berkaitan dengan kebugaran seperti lintas alam atau kegiatan pramuka. Di bawah areal candi selalu digunakan sebagai perkemahan pramuka. 

    Jadwal rutin mas Andi ke candi Dadi seminggu empat hari, yaitu Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu. Hari senin dan selasa masuk kantor. Bagi calon pengunjung dari luar kota, jika ingin naik candi Dadi mengisap keunikan dan pukauannya, sebaiknya menghubunginya sebagai pemandu perjalanan dan tentu saja siap jadi tukang cerita jika para pengunjung bertanya tentang candi Dadi.



    ===========

    SIWI SANG

    Lihat juga di:

    catatan ini telah dilengkapi pada 29/3/2016






    Candi Dadi tampak dari sisi Barat.

    Candi Dadi sudut Baratdaya
                                                            
    Mas Andi [celana doreng] pegawai Museum Wajakensis Tulungagung sedang cerita candi Dadi

    Candi Dadi Tulungagung
                                                                        
    siku sudut candi dadi seperti ini yang memukau para wisatawan asing
                                                                       
    Candi Dadi Tulungagung
    Candi Dadi Tulungagung
                                                                        
    Candi Dadi Tulungagung
                                                                       
    Candi Dadi Tulungagung
                                                                      
    Lobang Sumur di candi Dadi. Sangat simetris
                                                                                                                                           
    Kerja bakti cabuti rumput di atas candi Dadi
                                                                              
    Candi Dadi Tulungagung
                                                                  
    Candi Dadi Tulungagung
                                                                       
    Mas Andi menyapu halaman candi Dadi
                                                                                                           
    Candi Dadi Tulungagung

    Candi Dadi Tulungagung


    Candi Dadi Tulungagung


    Candi Dadi Tulungagung


    Candi Dadi Tulungagung


    Candi Dadi Tulungagung


    Candi Dadi Tulungagung

    Candi Dadi Tulungagung
                      


    Literatur

    Taktik Menulis

    Banjarnegara